Tantangan TABIN “Tabungan Arta Binusa”

buku+tabungan

Bank

 

Bank sendiri merupakan lembaga intermediasi keuangan umum yang umumnya didirikan dengan kewenangan untuk menerima simpanan uang, meminjamkan uang maupun mangkredit uang. Kata bank sendiri berasal dari bahasa Italia banque atau Italia banca yang berarti bangku, mengapa demikian karena dulu para bankir selalu bekerja dibelakang meja. Hal yang jarang dilakukan pada masa tersebut.

Menurut undang undang pokok perbankan no. 7 tahun 1992. Bank didefinisikan sebagai badan usaha yng menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kembali pada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup seseorang.

Ada beberapa prinsip dalam perbankan yang salah satunya telah diterapkan dalam tabungan arta binusa adalah prinsip mengenal nasabah, know how custumer principle. Prinsip yang diharuskan para bankir mengenal nasabah memantau kegiatan nasabah termasuk melaporkan ssetiap transaksi yang mencurigakan.

Dari pemaparan singkat diatas dapat disimpulkan, entah itu tabungan besar atau Bank Indonesia sekalipun akan tetap sama dengan Bank Mini, TABIN.  Karena secara teknisnya TABIN  merupakan alat berlatih untuk para murid yang mengambil jurusan akuntansi.

Dengan sistem ini diharapkan para murid yang ditugaskan menjadi bagian TABIN untuk bisa terbiasa.

 

Prospek dan Tantangan TABIN

 

Kegiatan operasional Bank Mini, TABIN dimulai pada tanggal 15 Agustus, tahun 2017. Dapat dibilang perkembangkan bank mini cukup pesat, tepat sasaran dan optimal.

Dengan penetapan minimalan menabung cukup mampu menekan angka kredit pada buku tabungan. Tapi cara tersebut tidak begitu atau kurang evektif  sebab perkembangan sektor perbankan yang terlalu cepat yang tidak diikuti infrastruktur yang mendukungnya seperti kebijakan yang sempurna, arah kegiatan usaha yang jelas, sumber daya manusia yang tangguh dan perbankan. Bank bagi pemilik lebih berfungsi sebagai fasilitator memobilisasi dana masyarakat untuk kepentingan usahanya dan bank sekedar dijadikan sapi perah bagi pemegang kekuasaan sedang disisi lain bank juga dijadikan alat pengumpulan modal untuk membesarkan usaha mengakibatkan ketimpangan dalam distribusi financial sehingga menghambat untuk menumbuhkan iklim usaha yang sehat.

Akibat yang terjadi adalah tekanan kerja yang tinggi bagi penanggung jawab perbankan sehingga menimbulkan sikap agresif dan terburu-buru sehingga cenderung mengabaikan aspek ketelitian dan kehati-hatian dalam bekerja. Di sisi lain banyak bank tidak memiliki strategi usaha yang fokus dimana penyaluran kredit dilakukan serampangan tanpa melalui strategi segmentasi/distribusi dan diversifikasi yang jelas tanpa didukung struktur dan kemampuan sumber dana pendukung ekspansi sangatlah lemah mengakibatkan dana kredit membengkak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *