BAHAYA DIBALIK GURIHNYA MICIN ATAU MSG

BAHAYA DIBALIK GURIHNYA MICIN ATAU MSG

micin jpg

Pada jaman sekarang hampir semua  makanan menggunakan micin, dan bisa dibilang micin sudah menjadi bagian dalam masakan sehingga makanan tanpa micin kurang enak kurang sedap, padahal micin itu tak baik loh buat kesehatan bila dikonsumsi dalam jangka waktu panjang dan dalam jumlah banyak, bahkan makanan ringan yang banyak di jual di pasar ataupun warung hampir semuanya mengandung MSG, lalu bila kita ataupun anak-anak banyak mengkonsumsi MSG bagaimana nasib kesehatan dan otak bagi kita maupun anak-anak, karena   penggunaan penyedap berlebihan justru menghambat pertumbuhan anak.

Mungkin kita sering mendengar atau bahkan mengucapkan sendiri perkataan tersebut saat membeli makanan seperti bakso atau nasi goreng yang dijajakan penjual keliling. Micin memang sangat digemari. Bahkan, ada pula orang yang tidak dapat makan tanpa micin, karena tanpanya makanan menjadi terasa lebih hambar dan kurang nikmat.

Apa sih sebenarnya micin itu?

Apakah baik mengkonsumsi micin terus menerus?

Micin atau vetsin atau monosodium glutamat adalah garam sodium dari asam glutamat.

Monosodium glutamat ini memiliki bentuk seperti kristal garam atau gula. Glutamat sebenarnya adalah asam amino alami yang ditemukan pada hampir semua makanan, terutama makanan dengan protein tinggi seperti produk susu, daging dan ikan, dan di banyak sayuran seperti tomat, kacang kedelai, dan rumput laut. Selain itu, tubuh manusia juga memproduksi glutamat yang berperan penting dalam regulasi normal fungsi tubuh.

 

MSG adalah glutamat kimia yang terbentuk secara alami. Di masa lalu, monosodium glutamat diekstraksi dari makanan tinggi protein alami seperti rumput laut. Saat ini, monosodium glutamat terbuat dari proses fermentasi industri. Monosodium glutamat yang ditambahkan pada makanan memberikan fungsi penyedap, mirip dengan glutamat yang terdapat secara alami dalam makanan. Glutamat sebenarnya tidak memiliki rasa sendiri, tetapi meningkatkan rasa lain dan memberikan rasa gurih. Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa glutamat berfungsi sebagai menambah rasa kelima yang disebut “umami” atau gurih, disamping adanya rasa manis, asin, pahit, dan asam. Penggunaan monosodium glutamat sebagai penyedap rasa masih menimbulkan kontroversi. Food and Drug Administration (FDA) telah mengklasifikasikan MSG sebagai bahan makanan yang “secara umum bersifat aman,”. Namun, banyak orang mengaku memiliki reaksi buruk ketika mereka memakan makanan yang dibumbui dengan MSG.

 

Pada akhir 1960-an, orang-orang mulai berbicara tentang “sindroma restoran Cina,” dan menyatakan bahwa makanan yang dipersiapkan dengan MSG di restoran Cina membuat mereka sakit. Selama empat dekade terakhir banyak penelitian telah dilakukan untuk menguji gagasan bahwa beberapa orang mungkin sensitif terhadap MSG. Namun, saat ini kebanyakan ilmuwan berpendapat bahwa jika terdapat reaksi seperti itu, sangatlah jarang hal itu sebagai akibat dari sensitivitas atau alergi terhadap MSG. Sementara itu, penelitian juga tidak menemukan pola gejala yang teratur yang merupakan reaksi khas terhadap MSG. Penelitian menemukan bahwa orang lebih cenderung memiliki gejala jika mereka mengkonsumsi kristal MSG dibandingkan jika mereka makan dalam jumlah yang sama dimana MSG bercampur dengan makanan. Pada beberapa orang mengkonsumsi MSG dapat menimbulkan reaksi seperti berikut:

  • Sakit kepala
  • Flushing
  • Berkeringat
  • Wajah terasa tertekan dan sesak
  • Mati rasa, kesemutan atau terbakar di daerah wajah, leher dan daerah lain
  • Jantung berdebar-debar
  • Nyeri dada
  • Mual

 

Pendapat Ahli Tentang MSG

Menurut ahli alergi dan ahli imunologi, Katharine Woessner dari Grup Medis Klinik Scripps, yang melakukan penelitian tentang efek MSG, ada banyak kesalahpahaman di masyarakat mengenai MSG. Banyak ilmuwan sepakat, anggapan MSG menyebabkan penyakit pada manusia tidak berdasar.

 

Hal senada diungkapkan Ken Lee, Profesor dan Direktur Inovasi Makanan di The Ohio State University. Menurutnya, tidak benar MSG beracun atau penyebab alergi makanan. MSG adalah singkatan dari monosodium glutamat, tambahnya. Jadi, isinya adalah natrium, banyak terdapat pada garam meja. Sementara glutamat, komponen dasar MSG, adalah sinonim untuk asam glutamat. Ini adalah asam amino alami.

 

Penting diketahui, sebagian besar makhluk hidup di bumi mengandung glutamat dan glutmat banyak terdapat dalam bahan makanan, termasuk tomat, kenari, keju parmesan, kacang polong, jamur, dan kecap. Rata-rata orang dewasa mengonsumsi sekitar 13 g glutamat setiap hari dari protein dalam makanan. Padahal menurut FDA, MSG hanya menyumbang 0,55 g glutamat.

 

Kenapa MSG Dipercaya Berbahaya?

Tahun 1960-an, ketika The New England Journal of Medicine menerbitkan sebuah surat dari dokter di Maryland, Robert Ho Man Kwok, yang menulis bahwa ia mengalami gejala mirip dengan reaksi alergi setiap kali mengonsumsi makanan dari restoran Cina. Dia pun mempertanyakan penyebabnya, apakah hal itu karena anggur yang diminumnya, rempah-rempah dalam makanan, atau MSG?

 

Surat Kwok yang merujuk pada kumpulan gejala sebagai Chinese Restaurant Syndrome (CRS) mendorong orang lain untuk menulis ke jurnal dengan pengalaman mereka sendiri yang juga merasakan pusing setelah mengonsumsi makanan Cina.

Entah bagaimana, saat surat Kwok booming, seorang ahli saraf bernama John Olney menerbitkan sebuah studi tentang aditif in science.

Dalam eksperimennya, dia menyuntikkan aditif (MSG) langsung ke tikus putih laboratorium. Hasilnya, ditemukan sejumlah masalah neurologis pada subjeknya, termasuk lesi otak atau perkembangan yang terganggu.

Eksperimen Olney banyak dipertanyakan dan disangsikan, karena Olney memilih untuk menyuntikkan tikus dengan MSG di bawah kulit, sedangkan satu-satunya cara manusia mengonsumsi MSG adalah dengan memakannya. Hal ini, menurut John Fernstrom, Profesor Psikiatri, Farmakologi, dan Biologi Kimia di University of Pittsburgh School of Medicine, tidak benar, apalagi glutamat sebagian besar

dimetabolisme di usus.

Tak hanya itu yang membuat banyak ahli meragukan eksperimrn Olney. Dalam eksperimennya, Olney menyuntikkan MSG ke subjek tikusnya dengan dosis untuk kuda, jauh lebih tinggi daripada yang dikonsumsi manusia.

 

Menurut Lee, apa pun yang dikonsumsi secara berlebihan tidak baik, karena  semua yang dikonsumsi secara berlebihan bisa menjadi racun, termasuk MSG.

Lucunya, pada1993 ada penelitian yang membongkar teori MSG is bad for you. Penelitian yang menguji 71 subjek untuk reaksi terhadap MSG sehubungan dengan CRS menyimpulkan bukti ilmiah ketat dan realistis yang menghubungkan sindrom ini dengan MSG tidak dapat ditemukan.

 

Sumber : https://www.tanyadok.com/artikel-kesehatan/makan-banyak-micin-bahaya-gak-sih

http://nakita.grid.id/read/0213371/masih-percaya-micin-bisa-membuat-bodoh-dan-tidak-baik-bagi-kesehatan?page=all

 

Masih mau ikut – ikutan menjadi generasi micin??? ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *