Menulis yang Menyenangkan

Menulis yang Menyenangkan

Menulis adalah perkara yang sulit-sulit mudah. Itu yang saya rasakan betul. Ada kalanya sulit sekali menuliskan gagasan yang sudah menari-nari di atas kepala. Mentok. Jika sudah begitu di depan komputer dan beberapa buku pun tak begitu membantu. Rencana tulisan pun buyar.

Apalagi jika kita sedang banyak tugas lain yang ingin dikerjakan atau harus dikerjakan mendesak. Untuk mengupdate blog pribadipun jadi semakin sulit. Boro-boro menulis satu minggu satu artikel atau bahkan satu bulan satu artikel. Padahal banyak hal yang bisa ditulis, banyak hal yang bisa dikomentari.

Saat ini beragam media online menyediakan ruang yang begitu besar untuk tulisan-tulisan kita. Sayang sekali jika ruang itu tidak optimalkan. Dibanding internet penuh sesak dengan artikel-artikel penuh kebencian, berita bohong, fitnah merajalela, ada baiknya jika kita coba isi ruang internet ini dengan tulisan-tulisan yang lebih bermanfaat.

Kita bisa ceritakan pengalaman, tips-tips, gagasan maupun analisis tentang beragam hal. Kalau yang saya perhatikan, banyak juga penulis beken yang menulis status lumayan panjang dan kemudian baru dipost di blognya masing-masing. Ada juga yang memanfaatkan status FBnya tersebut sebagai bahan bukunya. Mereka pun bercerita tidak selalu menulis di den komputer. Ada ng memanfaatkan notes di HP, IPad atau tabletnya. Mereka bisa menulis di mana saja dan kapan saja. Sayapun coba mempraktekannya. Dan ini relatif berhasil.

Ide bisa hadir kapan saja dan di mana saja. Pada saat kita diskusi dengan rekan sejawat, makan di kantin, ngelamun di WC, berdesakan umpel-umpelan di TransJakarta dan commuterline, naik motor, jalan kaki, lari pagi, dsb. Kalau kita menunda ide yang melintas itu niscaya akan lupa, meluap entah di mana. Oleh karena itu ketika muncul segera tangkap dan catat. Di notes HP yang paling mudah. Catat dan rekam apa yang terlintas. Kalau saya buat poin-poinnya. Baru nanti dieksekusi dengan mengetiknya di laptop. Puthut EA salah satu penulis favorit saya (sekarang kepala suku di Mojok.co) bercerita di salah satu artikelnya. Ia menulis beberapa bukunya di Samsung Notenya. Ia memanfaatkan juga status FBnya sebagai dokumentasi calon tulisannya. Dari HPnya tersebut lahir karya-karyanya.

Sebagai penulis pemula sayapun mencoba apa yang dia lakukan. Memang belum ada karya besar lahir atau buku-buku (semoga nanti bisa) tapi minimal beberapa artikel koran yang saya kirim bisa dimuat. Minimal ide-ide awal bisa saya tuliskan di notes HP dan kemudian dirapihkan. Sambil dilengkapi dengan beragam referensi pelengkap tentunya. Adanya media sosial memang memudahkan. Meskipun kalau kita terlalu asyik dan memperhatikan lingkungan sekitar tentu akan menimbulkan akibat yang kurang baik dengan relasi sosial.

Penyakit yang paling sering menghinggapi saya adalah malas menulis. Atau ketika menulis mentok. Ini rasanya penyakit penulis pemula. Beberapa siasat kemudian saya yang saya lakukan. Sebab jika ini tak teratasi akan gawat. Pekerjaan yang saya lakukan memang terkait tulis menulis, sehingga tak boleh sampai semangat menulis ini hilang. Ini beberapa hal yang biasa saya lakukan. Ini saya lakukan agar menulis menjadi laku yang menyenangkan bukan malah memberatkan.

Pertama, biasanya saya membaca ulang atau mencari buku atau artikel yang terkait tulis menulis. Di internet banyak sekali buku-buku dan artikel jenis ini. Setelah baca kadang semangat ini naik lagi. Meskipun tak sepenuhnya. Namun relatif membantu.

Kedua, membaca buku yang sesuai tema tulisan yang sedang dikerjakan. Ini sangat membantu. Sebab, seringkali inspirasi muncul ketika membaca buku. Entah teori ataupun argumen dari penulis yang memicu kita kembali mendapatkan ide-ide segar.

Ketiga, diskusi atau ngobrol-ngobrol ringan dengan teman. Saya punya beberapa teman yang asyik diajak bicara tentang beragam tema. Dari celetukan-celetukan dan obrolan ngalor-ngidul itulah biasanya muncul ide segar. Atau ada istilah make your writing social. Kalau kita punya draf tulisan bisa kita minta siapapun teman untuk membacanya. Kadang teman kita punya argumen atau sudut pandang yang mungkin tak terpikirkan. Ini bisa jadi bahan melanjutkan gagasan yang sudah kita tulis.

Keempat, nonton Youtube dan main medsos. Di Youtube itu beragam hal ada. Dari ceramah agama, kuliah teori, tips ini itu, dll. Jadi bisa kita jelajahi untuk mencari ide tulisan. Tapi jangan keasyikan, nanti tulisan malah ga kelar-kelar. Seorang senior yang menurut saya sudah jadi seleb medsos karena cetusan-cetusannya di FB justru produktif menulis. Status FB yang panjang sering diminta redaktur media online untuk dimuat di web yang dikelolanya. Dia juga tetap rajin menulis chapter buku dan jurnal. Ini memang bergantung kemampuan kita mengolah informasi dan memanfaatkannya.

Kelima, nulis bebas. Menulis bebas itu mengasyikkan. Pokoknya apa yang terlintas kita tulis. Kalau ga selesai biarkan aja jadi draf. Pasti berguna nantinya. Yang penting dikasih judul. Supaya pas butuh bisa kita tengok atau cek lagi. Atau bisa kita kembangkan pas lagi moodnya nulis.

Keenam, membaca tulisan yang orang lain buat dan pelajari tulisannya. Pasti kita punya penulis panutan. Ia bisa jadi sumber inspirasi dan rujukan bagi kita menulis. Baca sebanyak-banyaknya tulisan yang bisa dibaca. Pasti manfaat.

Kayaknya masih banyak cara yang bisa dilakukan agar semangat menulis kembali hadir. Yang jelas menurut saya menulis membutuhkan motivasi yang kuat. Kalau ga ya ga bakalan selesai target tulisan kita. Seorang senior saya misalnya menulis karena desakan kebutuhan ekonomi. Ia rajin menulis opini populer juga menulis jurnal. Bahkan pernah mencetuskan one seekor one article di FBnya. Efek yang didapat ia mendapatkan honor dari tulisan yang dibuatnya juga namanya semakin dikenal oleh komunitas yang terkait tema-tema tulisannya. Akhirnya ia sering diundang sebagai narasumber/pembicara.

Kita bisa coba cari sendiri motivasi apa yang membuat harus terus menulis. Kita juga harus punya target kapan harus menyelesaikan tulisan. Atau berapa tulisan yang ditarget oleh kita selama jangka tertentu. Pertama kali saya masuk kantor saya dua tahun lalu, saya punya target menulis opini di koran sebun sekali dan menulis satu jurnal minimal satu tahun sekali. Berhasil? Ya ngga. Ada kalanya satu bulan tak ada tulisan yang dimuat. Tapi pasti saya menulis. Dimuat atau tidak bukan urusan kita. Yang penting tulis. Kata senior saya, maju terus pantang mundur. Hehehe.

Kalau membaca para penulis top mereka punya konsistensi yang luar biasa sehingga tidak heran kalau karyanya juga luar biasa. Dee Lestari misalnya menghabiskan 6-7 jam unik menulis. Atau Haruki Murakami yang rajin berlari dan menulis. Pramoedya Ananta Toer misalnya rajin membuat kliping koran sebagai referensinya dalam menulis. Itu baru sebagian. Tentu banyak penulis yang punya ritual hebat yang menjadikan karya mereka laris manis. Yang jelas mereka sangat produktif.

(Sumber : https://www.kompasiana.com/anggiafriansyah/59bd38d39a78f1435a559983/menulis-yang-menyenangkan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *